TEKNOLOGI PADA MEDIA PEMBELAJARAN ABAD 21
Media pembelajaran membantu pebelajar dalam
mengkonstruksi keilmuan di berbagai lembaga penyelenggara Pendidikan
dunia. Perkembangan teknologi membantu media pembelajaran semakin mudah
digunakan. Berbagai teknologi media pembelajaran juga telah menjadi
trend dan bahkan membantu sumber-sumber belajar melawati batas-batas
wilayah, negara hingga benua.
MEDIA PEMBELAJARAN
Media dan teknologi telah diasumsikan berbagai kalangan sebagai perangkat yang membutuhkan teknologi tinggi. Orang-orang yang bekerja dengan teknologi pendidikan memiliki kegemaran membuat inovasi, dan selalu melaksanakan inovasinya ke dalam media pembelajaran di lingkungan pembelajarannya. Ketika lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran telah pada fese lembaga yang mengimplementasikan media, hal yang baik adalah lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran tidak ada lagi kebutuhan untuk memotivasi orang untuk menggunakannya. Tantangan lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran ke depan justru bagaimana untuk memotivasi orang untuk menggunakan media secara efektif dan efisien. Media tidak hanya akan mengubah cara pebelajar mau belajar, tetapi juga akan mengubah cara pendidik dan pengajar berpikir tentang mengajar dan belajar.
Teknologi baru kan membuat budaya baru. Media dan teknologi penuh
dengan potensi kreatif dan pada saat yang sama dengan juga memiliki
potensi penyalahgunaan dan bahkan “pelecehan”. Kehadiran terlihat dari
teknologi dalam sebuah lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran
tidak selalu menguntungkan mayoritas pebelajar dan meningkatkan
pembelajaran. Hanya dengan paparan media dan teknologi saja untuk
peserta pebelajar tidak cukup. Tidak ada jaminan bahwa belajar akan
berlangsung dengan baik hanya dengan media pembelajaran.
Media seharusnya tidak untuk digunakan hanya tambahan dalam proses
belajar dan pembelajaran. Pengguna media pembelajaran harus mampu
mengeksplorasi kekuatan dan potensi media pembelajaran sehingga proses
belajar dan pembelajaran menjadi yang sangat berharga. Penggunaan media
harus menjadi faktor utama dalam kualitas pembelajaran. Penggunaaan
media dan teknologi pembelajaran secara efektif dan efisien merupakan
tantangan dan peluang bagi pendidik dan pengajar. Jika efektifitas dan
efisiensi tidak dihiraukan, maka hukum dasar yang berlaku untuk
penerapan media dan teknologi untuk belajar dan pembelajaran yaitu media
dan teknologi pembelajaran tidak mengurangi biaya atau meningkatkan
hasil bagi siapapun.
PERGESERAN PARADIGMA MEDIA PEMBELAJARAN
Seorang pengajar dan pendidik tidak lagi sebagai “benteng pengetahuan”. Peran pengajar dan pendidik telah berubah. Titik awalnya adalah pengajar dan pendidik sebagai dari salah satu “dispenser” informasi dengan sebuah fasilitator pembelajaran dan kemudian mengasumsikan peran seorang manajer di kelas. Hingga perkembangan sekarang, pengajar dan pendidik mengalami pergeseran yang jelas dalam peran saat mendidik dan mengajar dari model komunikasi satu arah menjadi komunikasi dalam multi-dimensi.
Paradigma pendidikan dan pengajar tradisional menyajikan situasi di
mana pendidik dan pengajar memberikan instruksi berdasarkan pengetahuan
dan pengalaman mereka sendiri. Pendidik, dalam paradigma ini, adalah
sumber utama informasi, dan mengendalikan urutan presentasi. Pengetahuan
dan informasi yang dikirim dan ditransfer secara linear dari pengirim
ke pelajar.
Paradigma berbasis teknologi menyediakan akses ke teknologi
penyimpanan modern pada workstation pebelajar. Pebelajar sekarang dapat
mengakses dan memanipulasi informasi pada tingkat yang lebih cepat,
menghilangkan pembatasan yang dikenakan pada mereka dengan paradigma
lama. Model komunikasi multi-dimensi ini memungkinkan pebelajar untuk
berinteraksi dengan materi pelajaran, dengan pebelajar lain, dengan
lingkungan atau dengan multimedia dan teknologi. Teknologi memfasilitasi
penyampaian informasi dengan memberikan pebelajar berbagai pilihan
berdasarkan penilaian berkelanjutan masing-masing pebelajar, juga
memberikan motivasi dan kemampuan kognitif. Dengan memberikan akses
langsung ke pengetahuan dasar, paradigma baru menantang pebelajar untuk
mengelola dan memanipulasi sejumlah besar informasi sementara mendorong
mereka untuk merefleksikan pembelajaran mereka sendiri. Hal ini
memungkinkan pebelajar untuk mengubah peran yang selama ini hanya
sebagai penerima pasif informasi menjadi peran pencari pengetahuan yang
aktif.
Pebelajar menerima informasi dan instruksi dalam banyak mode dan dari
berbagai sumber. Karena tradisi bahan cetak dalam pendidikan, kita
sudah terbiasa untuk membaca secara berurutan dan linear. Informasi
ditemui dalam urutan kunci-langkah yang telah ditentukan. Pikiran kita
dibatasi oleh keterbatasan media cetak. Kondisi terkini, pembatasan
akses ke teknologi bisa menjadi salah satu hal yang mematikan motivasi
belajar. Volume konten pembelajaran yang telah dianggap sebagai
informasi tidak akan efektif diakses dengan cara konvensional. Jika
konten pembelajaran dicetak untuk digugunakan pebelajar, maka hal ini
sama dengan terlalu membatasi, membuat informasi yang berisi konten
pembelajaran menjadi berat dan lambat. Media dibangun di sekitar
anggapan bahwa apa pun kata-kata di media cetak dapat lakukan, kata-kata
dengan suara dan gambar dapat berbuat lebih baik.
Selain itu, untuk media cetak yang lebih umum (buku), media audio
(kaset audio), media yang ditampilkan (grafik) atau media diproyeksikan
(slide); ada yang konvensional media elektronik komunikasi (televisi,
radio) dan media komputer (internet, email, CD-ROM). Sebagian besar
informasi yang disimpan dalam format elektronik. Penggunaan media
menimbulkan masalah dan tantangan yaitu keterampilan pengguna media
pembelajaran harus pada tahap mampu memperoleh dan menguasai. Seperti
halnya pengetahuan teknis, pengetahuan peralatan, literasi komputer dan
untuk mengembangkan disposisi pribadi terhadap berbagai media yang
tersedia .
PENGATURAN PARAMETER MEDIA PEMBELAJARAN
Pemilihan media
Pilihan metode pengajaran dan media tergantung pada situasi belajar, pelajar, subjek, pendidik dan lembaga. Media dan metode harus mendapatkan perhatian untuk karakteristik intrinsik mereka. Ajaran konten harus dilakukan melalui media yang paling tepat – baik itu audio, audiovisual, tatap muka, media elektronik, paket belajar mandiri dll dan pilihan media harus menjadi bagian dari tahap perencanaan pengembangan kurikulum.
Pilihan metode pengajaran dan media tergantung pada situasi belajar, pelajar, subjek, pendidik dan lembaga. Media dan metode harus mendapatkan perhatian untuk karakteristik intrinsik mereka. Ajaran konten harus dilakukan melalui media yang paling tepat – baik itu audio, audiovisual, tatap muka, media elektronik, paket belajar mandiri dll dan pilihan media harus menjadi bagian dari tahap perencanaan pengembangan kurikulum.
Pemilihan media merupakan tahap kunci dalam proses pembelajaran yang
digunakan oleh pendidik dan pengajar. Dalam era di mana inovasi dalam
media elektronik, kini media pembelajaran hadir menjadi sebab
kebingungan pilihan bagi praktisi pendidikan, pemilihan media dan
faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan perlu dipahami sepenuhnya jika
pilihan yang tepat harus dibuat.
Teknologi pendidikan telah melihat pergeseran secara bertahap tapi
signifikan dari paradigma perilaku paradigma kognitif, menjadi
perspektif konstruktivis pada desain pembelajaran. Paradigma ini
memiliki pandangan eksplisit dan implisit pengetahuan, pelajar dan
media. Hal ini jelas ditunjukkan dalam pembangunan model yang berbeda
dari desain pembelajaran dan lebih khusus pada pemilihan media. Media
pembelajaan perlu diseleksi dan dilakukan pendekatan berbagi pandangan
umum dari pemilihan media sebagai tahap penting dalam desain suatu
peristiwa pembelajaran. Romiszowski menggambarkan secara komprehensif
bagaimana pengguna dapat memilih media pembelajaran melalui serangkaian
pertanyaan yang dirancang untuk membantu seleksi bagi kelompok yang
melakukan penolakan terhadap varian media sampai pilihan terakhir yang
tersisa untuk daftar pendek media yang sesuai. Adapun material
pertanyaannya adalah
· Apa materi pembelajarannya ?
· Apa jenis tugas pembelajarannya ?
· Siapa populasi sasarannya ?
· Apa keterampilan penggunanya ?
· Bagaimana kondisi fisik media ?
· Bagaimana ruang yang digunakan ?
· Bagaimana Pencahayaannya ?
· Bagaimana karakteristik pebelajar ?
· Bagaimana Gaya belajarnya ?
· Apa Kendala praktis ?
· Berapa dananya ?
· Kapan dilaksanakannya?
· Apa Bahan Medianya?
· Pendidik dan Pengajar?
· Pendidik dan Pengajar?
Pembelajaran yang baik disediakan oleh pendidik dan pengajar yang
fasih dengan materi pelajaran, informasi tentang karakteristik pebelajar
mereka, mampu memberikan pengetahuan dengan cara yang berarti, menarik
dan memotivasi, membimbing mereka menuju pemahaman yang lebih besar dari
subjek mereka dan dalam umum untuk lebih siap berfungsi sebagai warga
dalam lingkungan. Bagaimana bisa seorang pendidik dan pengajar menjadi
pembelajar yang baik? Tidak diragukan lagi dengan membuka saluran
komunikasi, menggunakan semua tersedia dan jalur yang paling efektif
untuk menjangkau pebelajar. Beberapa pendidik dan pengajar yang sangat
baik adalah sosok yang terampil menggunakan saluran komunikasi verbal,
tetapi kebanyakan dari kita tidak, dan sayangnya, pendidik dan pengajar
acuh tak acuh dengan komunikasi yang baik. Di sinilah penggunaan media
dan teknologi membantu pendidik dan pengajar dengan membuat tugas
mengajar lebih mudah dan membangun pengalaman pebelajar yang lebih
bermanfaat. Ketika berhadapan dengan media yang berteknologi tinggi
disposisi pribadi pendidik terhadap media pembelajaran menjadi
penting. Ini mungkin melibatkan kemampuan untuk mengubah, mengeksplorasi
cara-cara baru tanpa prasangka, antusiasme, untuk berpindah dari satu
model pembelajaran yang lain dalam subjek berbeda, wawasan untuk
menampilkan pemikiran inovatif dengan tetap mempertahankan kritis,
pendekatan rasional untuk hasil belajar yang diperlukan, keterampilan
untuk mengadopsi dan mengembangkan gaya pribadi yang kompatibel dengan
media tertentu dan berusaha terhadap lingkungan belajar yang optimal.
Tidak ada satu teknologi benar-benar dapat menyaingi pendidik dan
pengajar, jika pendidik dan pengajar adalah ahli dalam memberi dan
menerima informasi. Edward Murrow pernah berkata, “teknologi itu sendiri
dapat mengajar, tetapi tanpa unsur manusia, teknologi seperti sekotak
kabel …” Pendidik hari memiliki ketakutan ditandai menggunakan media dan
strategi baru. Alasannya sederhana, mengapa repot-repot untuk mengatur
peralatan dan meminjam media -jika seseorang dapat mengelola tanpa
mereka. Setelah dididik dengan media pembelajaran, banyak orang
cenderung untuk tinggal dengan akrab dengan media, melakukan pendekatan
‘dicoba dan diuji’, mengikuti jalur yang paling perlawanan dengan
mengadopsi metode yang sama sekali berbeda seperti ketika mereka
belajar. Banyak pendidik dan pengajar belum meyakinkan tempat media dan
teknologi dalam pendidikan. Keterampilan baru akan dibutuhkan dalam
membangun konsensus dan pengaturan prioritas yang gaya proaktif
menggantikan reaktif khas pendidik dan pengajar. Seperti setiap artis,
seorang pendidik dan pengajar harus memperoleh keahlian melalui
pelatihan formal dan pendidikan, serta menguasai keterampilan melalui
latihan. Pendidik harus berpengetahuan dan tanpa kompromi dalam mereka
berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk situasi pebelajar menemukan
dirinya dalam. Jika pendidik memiliki fobia terhadap media pembelajaran
tertentu, mereka tidak mungkin untuk menggunakannya dengan
baik. Pertanyaan tentang sikap dan perasaan pendidik dan pengajar adalah
salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi keberhasilan
pelajaran apapun. pendidik dan pengajar harus memiliki pikiran terbuka
terhadap penggunaan media. Terang-terangan mengabaikan situasi belajar
dan karakteristik pebelajar pasti media pembelajaran hanya akan mengarah
pada desain saja dan miskin konten pembelajaran.
Ada kebutuhan untuk sepenuhnya menerima kemungkinan dan keterbatasan
teknologi baru. Mesin gadget memiliki makna bahwa penggunaan media
melalui dari mana subjek pembelajaran dapat diajarkan dan bahwa pengguna
tidak bisa menyelesaikan tugas ini sendiri. Hanya dengan paparan media
untuk pebelajar tidak cukup.
Faktor biaya
Menggunakan media pembelajaran lebih mahal daripada bicara dan metode kapur. Tentunya pertimbangannya bukan semata-mata tentang masalah harga. Biaya ini harus ditimbang terhadap efektivitas langsung dan pemahaman yang cepat dari konten pembelajaran. Implikasi biaya jangka panjang harus dihitung untuk memasukkan biaya produksi, hardware dan software, total jam per hari sistem dapat dimanfaatkan. Penekanan saat ini tidak pada salah satu pendekatan atau umpan balik – tapi pada integrasi berbagai metode dan media pada sebuah lingkungan pembelajaran yang tepat dan efektif baik untuk kebutuhan khusus maupun keragaman pebelajar.
Menggunakan media pembelajaran lebih mahal daripada bicara dan metode kapur. Tentunya pertimbangannya bukan semata-mata tentang masalah harga. Biaya ini harus ditimbang terhadap efektivitas langsung dan pemahaman yang cepat dari konten pembelajaran. Implikasi biaya jangka panjang harus dihitung untuk memasukkan biaya produksi, hardware dan software, total jam per hari sistem dapat dimanfaatkan. Penekanan saat ini tidak pada salah satu pendekatan atau umpan balik – tapi pada integrasi berbagai metode dan media pada sebuah lingkungan pembelajaran yang tepat dan efektif baik untuk kebutuhan khusus maupun keragaman pebelajar.
Lembaga sering memperoleh media dalam mode non-sistematis. Umumnya
penggunaan yang tepat tidak ditentukan sebelum pembelian perangkat
keras. Seringkali media, yang telah dibeli tidak sebaik media
pembelajaran yang disumbangkan kepada lembaga dari hasil mahapebelajar,
guru, dosen dll. Tujuan media adalah untuk menyederhanakan pembelajaran.
Media Pembelajaran tidak harus membuat proses belajar lebih
kompleks. Media yang digunakan, kadang-kadang, tanpa banyak
berpikir. Mereka dipilih berdasarkan ketersediaan mereka. Media dan
teknologi akan mengurangi bukannya meningkatkan efisiensi kecuali
dikelola dengan baik.
Hardware dan atau perangkat lunak tidak cocok dan sering dipaksakan
dan diterima oleh pendidik tak peduli. Pendidik yang gemar mengajukan
pertanyaan-pertanyaan berikut: Haruskah kita membeli ini atau perangkat
keras itu? atau perangkat lunak apa yang bisa kita
buat? Pertanyaan-pertanyaan yang tepat pendidik harus bertanya adalah:
Bisakah kita mengabaikan tugas kita untuk pendidik dan pengajar? Bisakah
kita dalam proses mengabaikan media yang tepat yang dapat memandu
pebelajar untuk memperoleh informasi dan keterampilan baru? Ada
perbedaan besar antara menggunakan teknologi secara efektif dan
menambahkan teknologi untuk struktur kurikulum yang ada.
Pemanfaatan Media
Salah satu presenter baru-baru ini mengatakan, pemanfaatan media yang berarti lebih dari satu perjalanan ke tujuan. Tren riset media pembelajaran sejauh ini tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh kualitas presentasi hanya sebatas bahwa kualitas mempengaruhi kejelasan pesan. Selama bertahun-tahun domain pemanfaatan berpusat di sekitar kegiatan pendidik dan pengajar. Pengajaran dan pembelajaran model dan teori-teori saat ini fokus pada perspektif pengguna. Tidak ada satu media yang juga memiliki teknologi semua atribut yang idealnya diperlukan dalam tugas pembelajaran. The ASSURE model yang disajikan dalam teks dengan Seels dan Richey (1995: 43) telah menjadi panduan yang diterima secara luas untuk membantu pendidik merencanakan dan menerapkan penggunaan media dalam situasi mengajar. Langkah-langkah dalam model ini adalah
Salah satu presenter baru-baru ini mengatakan, pemanfaatan media yang berarti lebih dari satu perjalanan ke tujuan. Tren riset media pembelajaran sejauh ini tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh kualitas presentasi hanya sebatas bahwa kualitas mempengaruhi kejelasan pesan. Selama bertahun-tahun domain pemanfaatan berpusat di sekitar kegiatan pendidik dan pengajar. Pengajaran dan pembelajaran model dan teori-teori saat ini fokus pada perspektif pengguna. Tidak ada satu media yang juga memiliki teknologi semua atribut yang idealnya diperlukan dalam tugas pembelajaran. The ASSURE model yang disajikan dalam teks dengan Seels dan Richey (1995: 43) telah menjadi panduan yang diterima secara luas untuk membantu pendidik merencanakan dan menerapkan penggunaan media dalam situasi mengajar. Langkah-langkah dalam model ini adalah
- Analisis pebelajar
- tujuan
- Pilih media dan bahan
- Memanfaatkan media dan bahan
- Membutuhkan partisipasi pelajar
- Mengevaluasi dan merevisi
Daniel Kinnaman (Grey: 1994-1945) menyatakan, “di era informasi,
pebelajar perlu melakukan lebih dari sekedar mencari informasi – mereka
perlu tahu bagaimana untuk memisahkan bulu dari substansi”. Untuk
meningkatkan prestasi pelajar, media dan teknologi harus digunakan
secara efektif dalam proses pembelajaran daripada sebelumnya. Teknologi
baru menyajikan prospek menciptakan rangsangan yang semakin realistis,
menyediakan tor akses cepat dalam jumlah besar informasi, cepat
menghubungkan informasi dan media, menghilangkan hambatan jarak antara
instruktur dan pebelajar dan di antara pebelajar itu sendiri. Orang kaya
memiliki kekuatan yang tak terhitung di ujung jari mereka dan melalui
kinerja tinggi dan manipulasi komunikasi dan komputasi sumber daya dan
bekerja dengan orang lain di sekitar pada dunia global. Mereka yang
gagal untuk memahami dan mempelajari penggunaan komunikasi dan komputasi
sistem akan menjadi kelas bawah benar-benar kurang beruntung dalam
masyarakat yang semakin kompetitif.
MEDIA PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA PEBELAJAR
Tekanan dari berbagai pihak semakin meningkat kepada pendidik dan pengajar untuk memasukkan media pembelajaran dengan teknologi email, web dan multimedia – ke dalam program mereka dan praktek mengajar. Akibatnya pendidik perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam desain dan produksi sumber daya multimedia. Ada kebutuhan yang berkembang bagi pendidik untuk memahami proses desain media serta proses desain pendidikan. Namun kerangka desain pembelajaran dalam literatur tampaknya tidak mengakui proses yang mapan desain media pembelajaran. Apapun bisa berubah kecuali yang tetap adalah perubahan itu sendiri
Pendidik dan pengajar harus semakin menyadari awal dari pergeseran
paradigma penggunaan media pembelajaran adalah konteks, peran,
pengiriman dan pola pendanaan pendidikan dan pembelajaran. Pertumbuhan
baik jumlah maupun jenis media meningkat seperti garis eksponensial
dalam penggunaan internet, khususnya web sejak tahun 1995 dengan
kemampuannya untuk berkomunikasi beberapa media informasi – teks,
gambar, audio, animasi, video – interaktif dan sekarang telah menjadi
cara instan untuk melintasi batas-batas Negara. Toffler (1990)
menegaskan pengamatannya bahwa “apa yang terjadi adalah munculnya sistem
yang sama baru yang menyediakankekayaan pada komunikasi instan, data,
ide, dan symbol dll “.
Media pembelajaran baru memungkinkan perubahan praktik pendidikan dan
pembelajaran dengan cara yang sering digambarkan sebagai “komunikasi
fleksibel”, “belajar fleksibel” dan “mediasi belajar”. Sumber daya yang
cukup menawarkan pembelajaran dalam mode fleksibel untuk lebih
pebelajar. Sebuah alasan yang umum adalah bahwa fleksibel berbasis
internet adalah di mana saja dan kapan saja, pembelajaran harus
ditawarkan oleh lembaga yang memberikan layanan pendidikan dan
pembelajaran dengan tanpa batas untuk mempertahankan posisi pendidik dan
pengajar. Posisi tersebut berkaitan dengan memiliki relevansi di pasar
global dan keberagaman fasilitas pada lembaga penyelenggara pendidikan
dan pembelajaran sebagai penyedia yang kompetitif.
Metodologi industri yag berkembang saat ini adalah bagaimana
informasi dibuat, diakses, disampaikan, dan digunakan dalam konteks
kehidupan yang cepat berubah. Dede (1996) berpendapat bahwa “untuk
berhasil mempersiapkan pebelajar sebagai warga Negara yang produktif,
pendidik dan pengajar harus memasukkan ke dalam pengalaman kurikulum
dengan menciptakan dan memanfaatkan bentuk-bentuk media pembelajaran
dengan ekspresi baru, seperti multimedia. Keterampilan inti untuk tempat
kerja saat ini tidak hanya “mencari makan saja”, tapi pekerjaan
membutuhkan penyaringan sejumlah besar informasi yang masuk, kemudian
mengelola informasi dan bermuara dalam mengeksekusi kebijakan atau
tindakan berdasarkan informasi. Sehingga konteks ini bersifat memperluas
definisi media pembelajaran yang bersifat tradisional dan retorika agar
menjadi pengalaman berpusat pebelajar dengan berinteraksi dengan
informasi sangat penting untuk mempersiapkan pebelajar untuk
berpartisipasi penuh dalam masyarakat abad ini.
Kurikulum pendidikan terus berubah dari informasi teks yang berpusat
pada guru dan ujian tertulis dan perangkat laiinya telah berubah dengan
memposisikan pebelajar sebagai peserta aktif dalam proses pencarian,
pengorganisasian, analisis, menerapkan dan menyajikan beberapa media
informasi dengan cara baru untuk mengatasi masalah dan menyelesaikan
serangkaian masalah. Hasil belajar bukan dalam bentuk ukuran nilai.
Hasil belajar merupakan kapasitas pebelajar untuk menangani secara
independen dengan informasi baru dalam berbagai konteks dalam berbagai
bentuk dengan menggunakan berbagai media pebelajar.
Pebelajar bijaksana di era sekarang akan mencari dan bersedia
membayar biaya pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan yang membutuhkan informasi untuk menjadi pengusaha bukan
sebagai pekerja. Berbagai Universitas dan entitas virtual lainnya (di
dunia maya) mulai memberikan penawaran kualitas dan akan mengambil alih
pebelajar dari lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran yang
masih bersifat tradisional.
Tuntutan budaya, politik, ekonomi dan kelembagaan yang meningkat
telah menuntut pendidik dan pengajar untuk memanfaatkan media
komunikasi baru melalui email, web dan multimedia dalam kaitannya dengan
belajar dan pembelajaran. Kurikulum yang fleksibel berkembang menjadi
pengalaman dimediasi jika dikembangkan dan dimoderatori oleh fasilitator
pendidik dan pengajar yang handal. Ada kebutuhan yang sangat nyata bagi
pendidik dan pengajar untuk memahami proses desain media generik dan
untuk mengembangkan keterampilan dalam menghasilkan sumber daya
multiple-media pembelajaran.
PERGURUAN TINGGI DAN PENYEDIA LAYANAN DI INTERNET
Perguruan Tinggi di seluruh dunia sebagian besar mulai tergantung pada teknologi informasi dan komunikasi untuk melayani kebutuhan kegiatan belajar dan pembelajaran. (Wing Lai : 2011) Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi mendukung pergeseran praktek-praktek budaya dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Penggunaan teknologi informasi juga untuk lebih memenuhi kebutuhan abad ke-21 pengguna dari kalangan akademisi pendidikan tinggi. Teknologi informasi dan komunikasi digital dapat memberikan pengalaman belajar lebih aktif dan fleksibel dengan mengadopsi pendekatan pedagogis partisipatif dan dengan memadukan pembelajaran formal dengan pembelajaran informal. Berbagai keunggulan dan kekurangan merupakan paket yang dirasakan sebagai resiko penggunaan teknologi. Salah satu paket tersebut adalah pengadaan dan pemeliharaan berbagai hardware dan software secara khusus memerlukan investasi berkelanjutan dan keterampilan sumber daya untuk mendukung keberlangsungan teknologi.
Perguruan Tinggi di seluruh dunia sebagian besar mulai tergantung pada teknologi informasi dan komunikasi untuk melayani kebutuhan kegiatan belajar dan pembelajaran. (Wing Lai : 2011) Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi mendukung pergeseran praktek-praktek budaya dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Penggunaan teknologi informasi juga untuk lebih memenuhi kebutuhan abad ke-21 pengguna dari kalangan akademisi pendidikan tinggi. Teknologi informasi dan komunikasi digital dapat memberikan pengalaman belajar lebih aktif dan fleksibel dengan mengadopsi pendekatan pedagogis partisipatif dan dengan memadukan pembelajaran formal dengan pembelajaran informal. Berbagai keunggulan dan kekurangan merupakan paket yang dirasakan sebagai resiko penggunaan teknologi. Salah satu paket tersebut adalah pengadaan dan pemeliharaan berbagai hardware dan software secara khusus memerlukan investasi berkelanjutan dan keterampilan sumber daya untuk mendukung keberlangsungan teknologi.
Negara berkembang di kawasan Asia Tenggara semakin menyadari peran
penting Perguruan Tinggi dalam meningkatkan sumber daya melalui
penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. (Hong dan Songan: 2011)
Sistem pendidikan tinggi di wilayah Asia Tenggara semakin memanfaatkan
TIK dalam menangani tantangan yang timbul. Adapun tantangannya adalah 1)
apa dan bagaimana siswa belajar, 2) kapan dan di mana mahasiswa belajar, dan 3) cara-cara untuk mengurangi biaya pendidikan. Negara-negara
di Asia Tenggara berada pada tahap perkembangan yang berbeda dengan
negara maju dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
pendidikan di Perguruan Tinggi. Dengan demikian, berbagi pengalaman
dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pendidikan
tinggi sangat penting bagi dosen dan pengelola yang berada di garis
depan pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan
aktifitas belajar dan pembelajaran.
Teknologi pada sistem “cloud computing” merupakan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi. Paket yang dijanjikan adalah skala ekonomis
yang menjanjikan dan fitur yang mampu meningkat pelayanan lembaga. Isyu
terbaru adalah sistem layanan “cloud computing” kian bertambah banyak
dan disediakan tanpa berbayar dan hanya menggunakan teknologi Internet.
Pengguna dari kalangan akademisi seperti dosen, mahasiswa, staf dan
penentu kebijakan dapat memanfaatkan sistem “cloud computing” dengan
mengakses dari web browser yang telah disediakan. Layanan yang
ditawarkan dapat dianggap murah atau bahkan bebas untuk pendidikan.
Dalam berbagai hal bahkan ketersediaan layanan lebih tinggi dan lebih
baik daripada yang dapat diberikan oleh Perguruan Tinggi .
Desain besar telah diimplementasikan oleh penyedia layanan internet.
Kecenderungan teknologi masa depan mulai mengarah pada sebagian besar
layanan pendidikan, belajar dan pembelajaran akan diselenggarakan
melalui “ cloud computing” . Institusi sebagai bagian dari dunia global
tidak lagi menjadi tuan rumah pusat data mereka sendiri dikarenakan
dengan investasi perangkat keras yang mahal , tagihan listrik yang
membengkak, gaji pengelola dan banyaknya fitur yang jarang dimanfaatkan
sepenuhnya. Perkembangan sistem “cloud computing” merupakan mahakarya
untuk mewujudkan globalisasi sesungguhnya.
PAKET LAYANAN PADA SISTEM CLOUD COMPUTING
Sistem “ cloud computing” yang ditawarkan oleh berbagai pihak
penyedia layanan internet memiliki beberapa paket. Sebagian diantara
paket-paket tersebut adalah:
Pengendalian Jarak Jauh terhadap Pusat data
Layanan pada sistem “Cloud computing” yang disampaikan melalui Internet dari pusat data yang memiliki spesifikasi tinggi dibangun di lokasi yang jauh dari pengguna dan institusi Perguruan Tinggi . Para penyedia server telah memiliki fitur yang telah mereka investasikan berupa sistem pendingin terbaru dan teknik optimasi layanan. Jika investasi ini dilakukan oleh perguruan tinggi, akan membebani sistem anggaran secara signifikan. Pusat-pusat data yang dikembangkan oleh penyedia layanan berada pada lokasi yang dekat sumber listrik murah. Bahkan lokasi pusat data tidak selalu diketahui pengguna, meskipun dalam beberapa kasus pengguna membutuhkan layanan yang berlokasi di negara-negara tertentu karena data undang-undang perlindungan. Penyedia layanan menyediakan hak akses dan pengendalian terhadap data yang tersimpan melalui sistem “cloud computing”
Layanan pada sistem “Cloud computing” yang disampaikan melalui Internet dari pusat data yang memiliki spesifikasi tinggi dibangun di lokasi yang jauh dari pengguna dan institusi Perguruan Tinggi . Para penyedia server telah memiliki fitur yang telah mereka investasikan berupa sistem pendingin terbaru dan teknik optimasi layanan. Jika investasi ini dilakukan oleh perguruan tinggi, akan membebani sistem anggaran secara signifikan. Pusat-pusat data yang dikembangkan oleh penyedia layanan berada pada lokasi yang dekat sumber listrik murah. Bahkan lokasi pusat data tidak selalu diketahui pengguna, meskipun dalam beberapa kasus pengguna membutuhkan layanan yang berlokasi di negara-negara tertentu karena data undang-undang perlindungan. Penyedia layanan menyediakan hak akses dan pengendalian terhadap data yang tersimpan melalui sistem “cloud computing”
Sewakelola layanan sesuai kebutuhan
Fitur layanan utama seperti penyimpanan data , pemrosesan, memori dan bandwidth dibagi secara proporsional terhadap beberapa pengguna dan dapat dialokasikan secara dinamis hingga layanan dapat dialokasikan berdasarkan pada permintaan. Komponen perangkat keras yang disediakan oleh penyedia layanan dapat diganti tanpa berdampak pada layanan belajar, pembelajaran, kinerja atau bahkan ketersediaan ruang baru. Pengelolaan terhadap data yang tersebar di beberapa pusat data dalam kategori aman karena penyedia layanan memberikan jaminan keamanan dan ketahanan dengan sistem terbaru.
Fitur layanan utama seperti penyimpanan data , pemrosesan, memori dan bandwidth dibagi secara proporsional terhadap beberapa pengguna dan dapat dialokasikan secara dinamis hingga layanan dapat dialokasikan berdasarkan pada permintaan. Komponen perangkat keras yang disediakan oleh penyedia layanan dapat diganti tanpa berdampak pada layanan belajar, pembelajaran, kinerja atau bahkan ketersediaan ruang baru. Pengelolaan terhadap data yang tersebar di beberapa pusat data dalam kategori aman karena penyedia layanan memberikan jaminan keamanan dan ketahanan dengan sistem terbaru.
Fitur layanan utama dari sistem “cloud computing” adalah elastis dan
cepat. Faktor ini memungkinkan pengelola perguruan tinggi maupun
akademisi yang menggunakan sistem “cloud computing” secara mendadak
melakukan permintaan layanan. Sistem “cloud computing” yang telah
dimplementasikan hingga saat ini telah memberikan kesan bahwa
pengelolaan layanan yang terukur namun mampu menyediakan layanan tidak
terhingga kepada para pengguna. Penjelasan yang termudah adalah Jika
Perguruan Tinggi dan pengguna akademisi ingin meningkatkan penggunaan
secara mendadak harus ada, maka tidak perlu mengajukan atau membeli
perangkat keras tambahan yang bisa memakan waktu berminggu-minggu dan
kemudian dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Pengelolaan alokasi anggaran merupakan isyu paling menarik dalam
penggunaan sistem “cloud computing”. Jika dalam sistem “cloud computing”
membutuhkan alokasi anggaran, maka pengguna hanya membayar untuk
layanan yang digunakan. Penyedia layanan akan menanggung biaya hardware
dan penyediaan perangkat lunak. Pada beberapa fitur yang disediakan pada
sistem “cloud computing”, menggunakan fitur-fitur tidak berbayar.
Sehingga, Penyedia layanan akan menanggung sepenuhnya terhadap biaya
hardware dan penyediaan perangkat lunak.
Secara umum pengelolaan layanan oleh pengguna dapat dilakukan secara
swakelola. Pengguna dapat memutuskan fitur-fitur apa yang digunakan ,
dan menambah atau mengurangi ini tanpa harus mendiskusikan dengan
penyedia layanan. Fasilitas pelaporan disediakan sehingga pelanggan
dapat memantau penggunaan fitur .
IMPLEMENTASI CLOUD COMPUTING
Beberapa penyelenggara pendidikan bahkan Perguruan Tinggi yang telah menggunakan layanan belajar dan pembelajaran on-line, belum mengunakan sistem “cloud computing” secara optimal. Beberapa perguruan tinggi bahkan telah salah mengasumsikan terhadap sistem “cloud computing”. Asumsi terhadap sistem “cloud computing” adalah sebuah sistem dalam Internet yang tidak banyak memberikan dukungan terhadap proses belajar dan pembelajaran dan hanya memfasilitasi kegiatan yang tidak diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi bahkan kebingungan antara istilah Web 2.0 dan sistem “cloud computing” .
Beberapa penyelenggara pendidikan bahkan Perguruan Tinggi yang telah menggunakan layanan belajar dan pembelajaran on-line, belum mengunakan sistem “cloud computing” secara optimal. Beberapa perguruan tinggi bahkan telah salah mengasumsikan terhadap sistem “cloud computing”. Asumsi terhadap sistem “cloud computing” adalah sebuah sistem dalam Internet yang tidak banyak memberikan dukungan terhadap proses belajar dan pembelajaran dan hanya memfasilitasi kegiatan yang tidak diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi bahkan kebingungan antara istilah Web 2.0 dan sistem “cloud computing” .
![]() |
| Gambar 1 Cloud Computing Jurusan Teknologi Pendidikan |
Teori “cloud computing” memang belum mendapatkan kesepakatan dalam
pemahaman secara global. Hal tersebut juga berlaku pada teknologi web
2.0. Blog, wiki, twitter, facebook dan lain-lain merupakan teknologi
yang dianggap sebagai aplikas Web 2.0. Aplikas teknologi web 2.0
memungkinkan pengguna untuk mengubah isi dari halaman web dan
berinteraksi dengan orang lain melalui aplikasi sehingga tercipta
kontruksi informasi dan komunikasi 2 arah. Perangkat lunak web 2.0 dapat
diselenggarakan oleh Perguruan tinggi melalui intranet atau diakses
secara umum melalui Internet. Pada konteks ini, Web 2.0 dapat dianggap
sebagai jenis aplikasi tertentu sedangkan “cloud computing” adalah
sistem yang memungkinkan beberapa metode dalam berbagai aplikasi yang
memungkinkan adanya aktivitas penyimpanan, pemrosesan, pengelolaan,
pengiriman .
Langkah menuju sistem “cloud computing” pada perguruan tinggi dimulai
dengan dengan memanfaatkan penyediaan email mahasiswa. Layanan email
adalah layanan mendasar, standar , dan dapat diberikan dengan mudah oleh
pihak penyelenggara layanan. Walaupun kedudukannya merupakan aplikasi
yang mendasar, email justru diklaim bukan merupakan inti, penting atau
mendesak untuk misi pendidikan nasional. Gmail, Ymail, Hotmail dll dalam
kenyataannya telah menawarkan layanan email gratis baik perorarangan
maupun kelembagaan untuk sektor pendidikan di seluruh negara. Tendensi
berbagai perusahaan menyediakan email adalah sebagai bagian dari
pendukung aplikasi yang lebih besar. Misalnya untuk mendaftarkan akun
sebuah aplikasi yang ditawarkan. Persusahaan Internasional yang peduli
sangat konsisten dalam dunia pendidikan adalah perusahaan google dengan
Google Apps for Education dan Perusahaan Microsoft melalui microsoft
Live @ edu. Secara umum, sistem yang ditawarkan adalah alat komunikasi
seperti teknologi pesan yang dibuat secara instan beserta pengelolaan
sistem dan software aplikasi lainnya. Ada juga aplikasi dokumen berupa
pengolah kata, pengolah angka hingga presentasi dilengkapi dengan
fasilitas dari penyimpanan, pemrosesan hingga bagaimana penyampainnya,
Ruang penyimpanan sangat signifikan untuk seluruh dokumen dan dari semua
jenis. Layanan tersebut ditawarkan kepada pengguna dan bahkan dapat
terus menggunakan setelah mereka meninggalkan Perguruan Tinggi.
Banyak layanan yang diberikan secara gratis kepada Perguruan Tinggi.
Sejumlah keuntungan bagi perusahaan yang saat ini bersaing untuk merebut
pangsa pasar. Software aplikasi yang disediakan didiskon dan bahkan
tanpa berbayar untuk sektor pendidikan. Penyedia layanan berusaha untuk
membangun hubungan dengan Perguruan Tinggi yang menyediakan sumberdaya
manusia pada masa depan. Penggunaan lain terhadap sistem “cloud computing” yang mulai muncul
dalam perguruan tinggi adalah untuk hosting sistem manajemen
pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan LMS (Learning Management
System). Penyedia layanan LMS seperti Claroline, Blackboard, Dokeos,
Moodle dan lain-lain bahkan memberikan lisensi tidak berbayar kepada
pihak Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan pengguna aplikasi.
CLOUD COMPUTING PADA SISTEM PEMBELAJARAN
Sistem pembelajaran merupakan kekuatan utama pada lembaga pendidikan secara umum. Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki keragaman layanan dalam sistem pembelajaran. Trend layanan perguruan tinggi adalah layanan dengan tajuk “e-learning”. Berbagai versi aplikasi e-learning telah dimanfaatkan sebagai sarana dalam sistem pembelajaran. Nuansa e-learning mewarnai setiap teori, model bahkan hingga kajian-kajian diskusi dan penelitian. Sehingga e-learning merupakan aplikasi layanan unggulan dalam sebuah sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi.
Sistem pembelajaran merupakan kekuatan utama pada lembaga pendidikan secara umum. Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki keragaman layanan dalam sistem pembelajaran. Trend layanan perguruan tinggi adalah layanan dengan tajuk “e-learning”. Berbagai versi aplikasi e-learning telah dimanfaatkan sebagai sarana dalam sistem pembelajaran. Nuansa e-learning mewarnai setiap teori, model bahkan hingga kajian-kajian diskusi dan penelitian. Sehingga e-learning merupakan aplikasi layanan unggulan dalam sebuah sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi.
Sistem pembelajaran modern tidak bisa dimonopoli lembaga dan
cenderung fleksibel terhadap jenis dan letak sumber belajar. Perguruan
Tinggi tidak mungkin menutup akses dua arah dengan penyedia layanan di
Internet. Bahkan entitas pengguna tidak hanya pada kalangan civitas
akademika. Sehingga “kesemrawutan” di era belajar telah diantisipasi
oleh sistem yang sangat besar yaitu “cloud computing”. Kekuatan yang
luar biasa telah muncul dan telah siap untuk diaplikasikan dalam sistem
pembelajaran Perguruan Tinggi.
MEMANFAATKAN APLIKASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
Aplikasi yang ditawarkan oleh perusahaan google sangat banyak dan
memiliki keunggulan yang patut diperhitungkan. Jika sampai hari ini
hanya mengenal google sebagai mesin pencari berbasis web, maka dapat
dikatakan sebuah kerugian besar. Ironisnya banyak yang menggunakan
aplikasi milik google tanpa menyadarinya. Sistem Operasi “Android” dan
penyimpanan video “Youtube” merupakan sebagian aplikasi yang ditawarkan
google dan diberikan “gratis”.
![]() |
| Gambar 2. Aplikasi Gratis Google |
Bahkan yang lebih “menyenangkan” adalah perusahaan-perusahaan dibawah
google atau mendukung google semakin banyak. Perusahaan tersebut
bergabung dalam sebuah wadah aplikasi google.
![]() |
| Gambar 3. Berbagai Aplikasi Google |
Berbagai aplikasi layanan telah disediakan dan diberikan penjelasan
yang cukup terdapa tatacara penggunaannya. Pengguna google seperti
dimanja oleh ribuan aplikasi. Pengguna hanya perlu memilih aplikasi yang
sekarang dibutuhkan atau membiarkan aplikasi yang kurang dibutuhkan.
Pengguna dapat mengelola aplikasi yang telah terkoneksi oleh aplikasi
google, tanpa harus meminta persetujuan ulang/berkali-kali.
![]() |
| Gambar 4. Aplikasi Pendidikan |
Aplikasi-aplikasi yang tidak berbayar, jika telah terpasang, akan
langsung siap untuk digunakan dan dimanfaatkan, tanpa harus menunggu
lisensi atau pembenahan legalitas.
KESIMPULAN
Visi belajar dan pembelajaran telah mengalami reformasi yang menekankan: 1) keterlibatan aktif pebelajar dalam proses pembelajaran; 2) memperhatikan kemampuan intelektual dan emosional pada berbagai tingkatan; 3)penyusunan media pembelajaran dimaksudkan untuk ikut memecahkan permasalahan pada dunia yang berubah dengan cepat dan fleksibilitas antara pebelajar yang akan memasuki dunia kerja yang akan menuntut pembelajaran seumur hidup. Kearsley, (1994: p159) pengungkapkan Pendidik, pengajar dan administrator harus benar siap untuk meningkatkan dan mengelola teknologi.
Salah satu bidang yang sangat penting bagi pendidik dan pengajar
adalah kemampuan untuk secara kritis mengevaluasi teknologi media
pembelajarn yang ada dan yang baru. Kita perlu pendidik dan pengajar
yang dapat berpikir tentang kemungkinan efek samping, konsekuensi dan
dampak dari teknologi media pembelajaran yang telah
dikembangkan. Pendidik dan pengajar perlu mengembangkan media
pembelajaran yang hanya bisa menjadi mediator. Namun bisa menghubungkan
sumber belajar yang menjadi asset pendidikan dan pembelajaran di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Criticos, C. (1994). Media Selection. In T. Husen & T. N. Poselthwaite (eds), The International Encyclopaedia of Education. Second Edition. London: Pergamon Press. pp3756-3760.
Dede, C. (1996). Emerging technologies and distributed learning. The American Journal of Distance Education, 10(2), 4-36.
Dick, W. and Carey, L. (1996). The Systematic Design of Instruction. (4th edition). New York: Harper Collins.
Ely, D. P. and Minor, B. B. (Eds) (1993). Educational Media and Technology Yearbook. Volume 19. Colorado: Libraries Unlimited.
Galbreath, J. (1994). Multimedia in education: Because it’s there? TechTrends, 39(6), 17-20.
Gray, R. A. (1994). The school media specialist: Teaching in the information age. TechTrends, 39(6), 45-46.
Hong.Kian-Sam dan Songan. Peter. 2011 ICT in the changing landscape of higher education in Southeast Asia. Australasian Journal of Educational Technology 2011, 27(Special issue,8), 1276-1290.
Karat, J. and Bennett, J. (1991). Working within the Design Process:
Supporting Effective and Efficient Design. In Carroll, J. (Ed.), Designing Interaction:
Kearsley, G. and Lynch, W. (1994). Educational Technology Leadership Perspectives. New Jersey: Educational Technology Publications.
Kistan, G. (1995). Expanding frontiers through collaboration and
networking. Paper presented at the International AECT Convention.
Anaheim. USA, 8-12 Feb, 1995.
Kwok-Wing Lai. 2011. Digital technology and the culture of teaching and learning in higher education. Australasian Journal of Educational Technology, 27(Special issue, 8), 1263-1275
Litchfield, A. (1994). Producing Multimedia: a user-centred approach. Proceedings of the Multimedia and Design Conference, University of Sydney, 26-28 September 1994, pp 3-10.
Mauldin, M. (1995). Developing Multimedia: A Method to the Madness. Technological Horizons in Education, 22(7), 88-90.
Nelson, T. (1990). The right way to think about software design. In Laurel, B. (ed.), The Art of Human-Computer Interface Design. Addison-Wesley, New York, pp235-243.
Norman, D. & Spohrer, J. (1996). Learner-centred Education. Communications of the ACM, 39(4), 24-27.
Toffler, A. (1990). Powershift. Bantam, New York.
Psychology at the Human-Computer Interface. Cambridge University Press, Cambridge, pp269-285.
Romiszowski, A. J. (1988). The selection and use of instructional media. Second Edition. New York: Kogan Page.
Sclater. Niall. 2010. Cloud Computing in Education. Unesco Institute for Information Technologies in Education. Moscow. Russian Federation.
Seels, B. B. and Richey, R. C. (1994). Instructional Technology: The definition and domains of the field. Washington, DC: Association for Educational Communications and Technology.
https://teknologipendidikan.org/teknologi-pada-media-pembelajaran-2/





Comments
Post a Comment